4 Dampak Kejang Berulang pada Tumbuh Kembang Anak
Kejang berulang pada anak tidak boleh diabaikan. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan belajar, perkembangan bahasa dan motorik, perilaku, keselamatan fisik, serta kehidupan keluarga. Namun, kejang berulang tidak otomatis menyebabkan gangguan tumbuh kembang. Dampaknya berbeda pada setiap anak dan dipengaruhi oleh penyebab, durasi, frekuensi, jenis kejang, usia saat kejang mulai terjadi, kondisi otak, serta kecepatan penanganan.
Kejang terjadi ketika aktivitas listrik di otak berlangsung tidak normal. Gejalanya dapat berupa tubuh kaku atau tersentak, tatapan kosong, hilang kesadaran sementara, gerakan berulang tanpa disadari, kebingungan, atau rasa mengantuk setelah episode.
Kejang berulang tidak selalu berarti epilepsi. Demam, infeksi, gangguan metabolik, cedera kepala, kelainan struktur atau fungsi otak, serta epilepsi dapat menjadi penyebabnya. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui pemicu dan menentukan penanganan yang sesuai.
Memahami Kejang Berulang pada Anak
Kejang berulang dapat berarti kejang muncul lebih dari satu kali, terjadi dalam pola tertentu, atau terus muncul meskipun anak telah mendapatkan pengobatan. Kejang juga dapat menjadi bagian dari epilepsi, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki kecenderungan mengalami kejang berulang tanpa pemicu langsung yang jelas.
Kejang berulang berbeda dengan kejang berkepanjangan atau kejang beruntun. Kejang yang berlangsung lama atau terjadi berulang tanpa anak kembali sadar merupakan keadaan darurat.
Jumlah episode saja tidak cukup untuk menentukan tingkat keparahan. Dokter perlu menilai riwayat kejang, kondisi anak sebelum dan sesudah episode, pemeriksaan saraf, perkembangan anak, serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan.
Faktor yang dapat memengaruhi dampak kejang meliputi:
- Frekuensi dan durasi kejang.
- Jenis kejang serta bagian otak yang terlibat.
- Penyebab dasar kejang.
- Usia saat kejang mulai terjadi.
- Demam, infeksi, cedera, atau gangguan metabolik.
- Respons terhadap obat antikejang dan efek sampingnya.
- Keterlambatan diagnosis dan penanganan.
- Kualitas tidur, nutrisi, stimulasi, dan dukungan keluarga.
1. Gangguan Kognitif dan Kemampuan Belajar
Kejang berulang dapat mengganggu perhatian, memori, pemrosesan informasi, kemampuan mengikuti instruksi, dan pemecahan masalah. Dampaknya tidak selalu berupa penurunan kecerdasan secara menyeluruh. Sebagian anak hanya mengalami kesulitan pada kemampuan tertentu.
Anak yang mengalami kejang sering atau lama, maupun kejang yang berasal dari bagian otak tertentu, mungkin lebih berisiko mengalami kesulitan belajar. Namun, kondisi yang menyebabkan kejang juga dapat menjadi penyebab utama gangguan kognitif. Hubungan tersebut perlu dinilai oleh dokter.
Tanda yang perlu diamati meliputi kesulitan mengingat materi, konsentrasi yang lebih pendek, sering kehilangan instruksi, tugas sekolah yang lebih lama diselesaikan, penurunan prestasi, tatapan kosong, serta rasa lelah atau kantuk. Catat durasi dan respons anak saat episode, lalu sampaikan informasinya kepada dokter.
Orang tua dapat membantu dengan mencatat waktu dan durasi kejang, menyampaikan kondisi anak kepada guru dan pengasuh, memberikan instruksi secara singkat dan bertahap, serta memastikan anak tidur cukup. Jangan menyebut anak malas atau tidak mampu sebelum penyebab perubahan belajarnya diketahui.
2. Keterlambatan Bicara, Motorik, atau Perkembangan Umum
Kejang berulang dapat berhubungan dengan gangguan pada bagian otak yang mengatur bahasa, gerak, koordinasi, atau kemampuan sosial. Penyakit yang mendasari kejang juga dapat memengaruhi perkembangan sejak awal.
Anak mungkin kehilangan waktu belajar karena sering mengantuk, menjalani perawatan, berulang kali menjalani pemeriksaan, atau tidak dapat mengikuti aktivitas harian. Sebagian obat antikejang juga dapat menyebabkan kantuk atau perubahan perilaku. Jangan menghentikan obat tanpa petunjuk dokter.
Tanda yang perlu diperhatikan antara lain kosakata yang bertambah lebih lambat, kesulitan menyusun kalimat, keterlambatan berjalan atau berlari, koordinasi tubuh yang kurang baik, kesulitan makan atau berpakaian, serta kemampuan bermain dan berinteraksi yang tidak sesuai tahap perkembangan. Kehilangan kemampuan bicara, bergerak, atau berinteraksi yang sebelumnya telah dikuasai memerlukan pemeriksaan segera.
Pemantauan tonggak perkembangan hanya menjadi alat pengamatan, bukan alat diagnosis. Evaluasi dapat melibatkan dokter anak, dokter saraf anak, psikolog, terapis wicara, fisioterapis, atau terapis okupasi. Penanganan lebih awal membantu anak memperoleh dukungan sesuai kebutuhannya.
3. Gangguan Perilaku, Emosi, dan Kesehatan Mental
Kejang berulang dapat memengaruhi perilaku dan emosi anak melalui aktivitas kejang, masa pemulihan, efek obat, gangguan tidur, rasa takut, atau tekanan sosial.
Anak mungkin lebih mudah marah atau menangis, cemas, menarik diri, mengalami gangguan tidur, sulit beradaptasi, merasa malu atau rendah diri, lebih bergantung kepada orang tua, atau kesulitan mengendalikan perhatian dan impulsivitas.
Perubahan perilaku juga dapat dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kejang berikutnya, pembatasan aktivitas yang terlalu ketat, ejekan atau stigma, kelelahan akibat pemeriksaan, serta stres orang tua. Sampaikan perubahan yang muncul setelah obat dimulai atau dosis diubah kepada dokter.
Jelaskan kondisi anak dengan bahasa sederhana sesuai usianya. Pertahankan rutinitas tidur, makan, sekolah, dan bermain. Berikan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang aman secara mandiri. Bantuan psikologis diperlukan jika kecemasan, perubahan suasana hati, atau penarikan diri menetap. Segera cari bantuan jika anak kehilangan minat total, mengalami gangguan tidur berat, atau menyampaikan keinginan untuk menyakiti diri.
4. Risiko Cedera, Gangguan Aktivitas, dan Beban Keluarga
Anak dapat jatuh, terbentur, atau terluka ketika kesadarannya menurun. Risiko lebih besar jika kejang terjadi di tangga, kamar mandi, kolam, tempat tinggi, dekat benda panas, atau saat makan. Kejang saat tidur juga perlu didiskusikan dengan dokter, terutama jika terjadi pada malam hari atau anak mengalami gangguan napas.
Anak mungkin memerlukan pengawasan lebih saat mandi, berenang, bersepeda, bermain di tempat tinggi, atau menggunakan peralatan tertentu. Aktivitas olahraga tidak selalu harus dihentikan, tetapi jenis kegiatan dan tingkat pengawasan perlu disesuaikan dengan kondisi anak serta rekomendasi dokter.
Sekolah sebaiknya memiliki rencana keselamatan yang mencakup tanda awal kejang, pertolongan pertama, nomor kontak orang tua, kondisi yang memerlukan layanan darurat, obat darurat bila diresepkan, serta penyesuaian kegiatan olahraga dan kunjungan luar sekolah.
Orang tua dapat mengalami ketakutan, kelelahan, kecemasan, atau rasa bersalah. Keluarga juga mungkin menghadapi biaya pemeriksaan, pengobatan, terapi, dan transportasi. Dukungan keluarga, sekolah, komunitas, dan tenaga kesehatan membantu menjaga kualitas hidup seluruh anggota keluarga.
Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang
Langkah yang Perlu Dilakukan
- Tetap tenang dan catat waktu kejang dimulai.
- Letakkan anak di lantai atau tempat yang aman.
- Jauhkan benda keras, tajam, panas, atau berbahaya.
- Miringkan tubuh anak bila memungkinkan agar jalan napas lebih aman.
- Longgarkan pakaian di sekitar leher.
- Lindungi kepala dengan benda yang lembut.
- Amati gerakan, warna kulit, napas, dan respons anak.
- Tunggu hingga kejang berhenti dan kesadaran anak pulih bertahap.
Jika situasi aman, video singkat dapat membantu dokter mengenali pola kejang. Jangan merekam jika hal tersebut menghambat pertolongan atau membahayakan anak.
Tindakan yang Tidak Boleh Dilakukan
- Jangan memasukkan sendok, jari, kain, atau benda apa pun ke mulut anak.
- Jangan menahan gerakan tubuh anak dengan paksa.
- Jangan memberikan makanan, minuman, atau obat melalui mulut saat anak belum sadar penuh.
- Jangan memindahkan anak kecuali tempatnya berbahaya.
- Jangan melakukan bantuan napas dari mulut ke mulut saat anak masih kejang.
- Jangan menghentikan obat antikejang tanpa instruksi dokter.
Kapan Kejang Memerlukan Pertolongan Darurat?
Segera hubungi layanan darurat jika:
- Kejang berlangsung lebih dari lima menit.
- Kejang berulang tanpa anak kembali sadar.
- Anak kesulitan bernapas atau tampak membiru.
- Kejang terjadi di dalam air.
- Anak mengalami cedera serius.
- Kejang merupakan episode pertama.
- Anak masih sangat kecil atau memiliki kondisi medis berat.
- Anak tidak kembali ke kondisi biasanya.
- Kejang disertai demam tinggi, kaku kuduk, muntah berulang, atau ruam yang mengkhawatirkan.
- Orang tua tidak yakin anak berada dalam kondisi aman.
Pemeriksaan dan Penanganan
Dokter dapat melakukan wawancara riwayat kejang, pemeriksaan fisik dan saraf, penilaian tumbuh kembang, pemeriksaan darah, pemeriksaan aktivitas listrik otak, pencitraan otak seperti pemindaian resonansi magnetik, serta penilaian kemampuan belajar, bahasa, motorik, dan perilaku.
Penanganan disesuaikan dengan jenis dan penyebab kejang. Dokter dapat memberikan obat antikejang, memantau respons, dan mengevaluasi efek sampingnya. Sebagian anak memerlukan terapi perkembangan atau dukungan pendidikan. Pada epilepsi yang tidak terkontrol dengan obat, pilihan lain, termasuk operasi untuk kasus tertentu, dapat dipertimbangkan setelah evaluasi menyeluruh oleh tim spesialis.
Jangan mengubah dosis, menghentikan obat, atau menggunakan terapi alternatif tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Cara Mencatat Kejang
Catat tanggal dan waktu kejadian, durasi, kondisi anak sebelum kejang, ada atau tidaknya demam, bagian tubuh yang kaku atau bergerak, perubahan kesadaran dan napas, warna bibir atau kulit, kemungkinan pemicu, kondisi setelah kejang, obat yang diberikan, serta cedera yang terjadi. Bawa catatan tersebut saat konsultasi.
Kesimpulan
Kejang berulang pada anak dapat berdampak pada kemampuan belajar, perkembangan bahasa dan motorik, perilaku, kesehatan mental, keselamatan fisik, serta kondisi keluarga. Dampak tersebut tidak pasti terjadi pada semua anak.
Penyebab, frekuensi, durasi, usia saat kejang dimulai, kondisi otak, respons terhadap pengobatan, dan kecepatan penanganan menentukan tingkat risikonya. Segera periksakan anak jika kejang terjadi berulang, berlangsung lama, merupakan episode pertama, disertai cedera atau gangguan napas, atau diikuti kemunduran kemampuan bicara, gerak, belajar, dan perilaku.
Pertanyaan Umum
Apakah kejang berulang pasti menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang?
Tidak. Kejang berulang dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan, tetapi dampaknya berbeda pada setiap anak.
Apakah anak yang mengalami kejang berulang harus berhenti sekolah?
Tidak selalu. Banyak anak tetap dapat bersekolah dengan penyesuaian dan rencana keselamatan yang jelas.
Berapa lama kejang pada anak dianggap darurat?
Kejang yang berlangsung lebih dari lima menit memerlukan pertolongan darurat. Bantuan segera juga diperlukan jika kejang berulang tanpa anak sadar, anak sulit bernapas, mengalami cedera, atau tidak kembali ke kondisi biasanya.
Apakah orang tua boleh memasukkan sesuatu ke mulut anak saat kejang?
Tidak. Tindakan tersebut dapat menyebabkan cedera dan menghambat jalan napas. Amankan lingkungan, lindungi kepala, dan miringkan tubuh anak bila memungkinkan.
Apakah obat antikejang dapat menyebabkan perubahan perilaku atau kantuk?
Sebagian obat dapat menyebabkan kantuk, perubahan suasana hati, atau efek lain. Jangan menghentikan atau mengganti obat sendiri. Sampaikan perubahan tersebut kepada dokter.
Kapan anak perlu dibawa ke dokter setelah mengalami kejang?
Anak perlu diperiksa jika kejang baru pertama kali terjadi, berulang, berlangsung lama, disertai demam atau cedera, atau diikuti kemunduran kemampuan bicara, gerak, belajar, dan perilaku.