Kisah Xi Jinping: Kehilangan Segalanya Sebelum Menjadi Pemimpin Paling Berkuasa di China
1. Pendahuluan
Xi Jinping saat ini berdiri di puncak hierarki politik Republik Rakyat China sebagai figur paling dominan sejak era Mao Zedong. Kendali mutlaknya mencakup Partai Komunis China (PKC), Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), dan seluruh aparat birokrasi negara berkekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia. Namun, posisi otoriter ini tidak diraih melalui jalur suksesi yang mulus atau tanpa rintangan.
Di balik status kekuasaannya saat ini, Xi Jinping pernah mengalami kejatuhan status sosial dan kehancuran keluarga secara menyeluruh. Gelombang turbulensi politik Revolusi Kebudayaan pada dekade 1960-an merampas seluruh hak istimewa masa kecilnya, mengubahnya dari anak elite partai menjadi musuh politik negara dalam semalam.
Perjalanan hidup Xi Jinping merupakan narasi mengenai penderitaan ekstrem, pengasingan fisik di pedesaan terpencil, penolakan institusional, hingga manuver politik jangka panjang. Artikel ini membedah kronologi kehidupan Xi Jinping dari masa pembuangan di rumah gua Liangjiahe hingga konsolidasi kekuasaan absolut di Zhongnanhai.
2. Masa Kecil Penuh Hak Istimewa dan Kejatuhan Drastis Keluarga
A. Kehidupan Awal sebagai “Pangeran Merah”
Xi Jinping lahir di Beijing pada 15 Juni 1953. Ayahnya, Xi Zhongxun, merupakan pahlawan revolusi generasi pertama, kawan seperjuangan Mao Zedong, serta menjabat sebagai Kepala Departemen Propaganda dan Wakil Perdana Menteri China. Status ini menempatkan Xi Jinping muda dalam kelompok elit yang dikenal sebagai taizi atau “Pangeran Merah”.
Masa kecil Xi dihabiskan di lingkungan kompleks perumahan elite partai yang terjaga ketat, mendapatkan fasilitas pendidikan terbaik di Sekolah 21 Agustus dan Sekolah Bayi, serta menikmati jaminan kesejahteraan yang jauh melampaui rata-rata rakyat biasa pada masa itu.
B. Pembersihan Politik Era Mao Zedong (1962–1966)
Privilese tersebut runtuh pada 1962, empat tahun sebelum Revolusi Kebudayaan resmi dimulai. Xi Zhongxun dituduh mendukung penerbitan Biografi Liu Zhidan, sebuah novel sejarah yang dianggap oleh Mao Zedong sebagai upaya terselubung untuk merehabilitasi nama Gao Gang, rival politik Mao yang telah disingkirkan.
Xi Zhongxun dicap sebagai bagian dari kelompok anti-partai, dicopot dari seluruh jabatan resminya, dan diasingkan untuk bekerja sebagai buruh pabrik traktor di Luoyang, Provinsi Henan. Penyingkiran sang ayah seketika mengubah status keluarganya menjadi keluarga berstatus politik tercela. Ibu Xi Jinping, Qi Xin, beserta anak-anaknya mulai menghadapi isolasi sosial dan tekanan dari lingkaran internal partai.
C. Teror Revolusi Kebudayaan
Peluncuran Revolusi Kebudayaan oleh Mao Zedong pada 1966 mempercepat kehancuran keluarga Xi. Kelompok militan Garda Merah menyerbu rumah keluarga Xi, menyita harta benda, dan memaksa anggota keluarga menjalani sesi pengadilan massa (struggle sessions).
Tragedi paling kelam terjadi ketika saudari tiri Xi Jinping, Xi Heping, tewas bunuh diri akibat tekanan psikologis dan persekusi fisik yang berkelanjutan dari Garda Merah. Xi Jinping sendiri, yang kala itu baru berusia 13 tahun, berulang kali diinterogasi, diarak di depan umum dengan topi memalukan, dan sempat dikurung di fasilitas penahanan remaja sebelum dipindahkan ke kamp pengawasan.
3. Masa Pembuangan di Liangjiahe: Hidup di Gua dan Kerja Kasar
A. Kebijakan “Turun ke Pedesaan” Tahun 1969
Pada Januari 1969, Mao Zedong mengeluarkan maklumat Gerakan Turun ke Pedesaan (Up to the Mountains and Down to the Countryside Movement). Jutaan pemuda kota yang terdidik (zhiqing) dikirim ke wilayah pedalaman untuk belajar dari kaum buruh dan tani miskin. Xi Jinping yang berusia 15 tahun dimasukkan ke dalam gerbong kereta menuju Liangjiahe, sebuah desa tandus dan terisolasi di Provinsi Shaanxi.
Kondisi di Liangjiahe berbanding terbalik dengan kehidupan masa kecilnya di Beijing. Xi tinggal di rumah gua (yaodong) yang dipahat di tebing tanah loes, tidur di atas ranjang bata (kang) yang dipenuhi kutu, bekerja mencangkul tanah tandus, memikul kotoran ternak, serta bertahan hidup dengan jatah makanan minim seperti jagung dan roti gandum kasar.
B. Krisis Adaptasi dan Upaya Pelarian Pertama
Pada bulan-bulan awal, Xi mengalami kesulitan beradaptasi dengan tuntutan fisik yang luar biasa dan isolasi sosial pedesaan. Ketidakmampuan menghadapi gigitan kutu dan kelelahan kerja membuatnya melarikan diri kembali ke Beijing tanpa izin resmi.
Pelarian tersebut gagal. Xi ditangkap oleh otoritas keamanan di Beijing, dijebloskan ke kamp kerja paksa untuk menggali parit pembuangan air selama beberapa bulan, sebelum ibunya sendiri menyerahkannya kembali kepada aparat untuk dikirim ulang ke Liangjiahe. Kejadian ini menjadi titik balik penting yang memaksa Xi mengubah pendekatan hidupnya secara total.
C. Transformasi Mental dan Pragmatisme Bertahan Hidup
Sadar bahwa pelarian bukan solusi, Xi memutuskan untuk membaur sepenuhnya dengan masyarakat lokal. Ia membuang sikap elite kota, menyamakan ritme kerja dengan petani lokal, dan memenangkan simpati warga melalui kerja keras.
Xi memimpin pembangunan reaktor biogas pertama di Provinsi Shaanxi setelah mempelajari teknologinya dari surat kabar, memungkinkan warga desa memanfaatkan kotoran ternak sebagai sumber gas untuk memasak dan penerangan. Selain itu, ia mengorganisasi pembangunan tanggul penahan air dan penggilingan kolektif. Dedikasi tersebut membuat warga desa menunjuk Xi sebagai Sekretaris Cabang Partai Desa Liangjiahe pada 1974. Pengalaman tujuh tahun di Liangjiahe membentuk daya tahan mental, pragmatisme politik, dan pemahamannya mengenai realitas masyarakat akar rumput China.
4. Jalur Kembali ke Jalur Kekuasaan
A. Perjuangan Bergabung dengan Partai Komunis China
Rekam jejak politik sang ayah terus membayangi upaya Xi untuk masuk kembali ke struktur formal. Permohonan Xi untuk bergabung dengan Liga Pemuda Komunis ditolak sebanyak delapan kali.
Ketika ia mengajukan aplikasi keanggotaan penuh di Partai Komunis China, berkasnya ditolak sepuluh kali berturut-turut oleh komite lokal karena label keluarga yang dianggap reaksioner. Melalui konsistensi kerja, loyalitas ideologis tanpa kritik, dan pendekatan terhadap pejabat lokal yang bersimpati pada keluarganya, Xi akhirnya resmi diterima sebagai anggota PKC pada awal 1974.
B. Pendidikan di Universitas Tsinghua
Pada 1975, Liangjiahe merekomendasikan Xi untuk mengisi kuota “Mahasiswa Pekerja-Petani-Prajurit” di Universitas Tsinghua, Beijing. Di sana, ia menempuh pendidikan di bidang teknik kimia organik.
Meskipun sistem pendidikan tinggi saat itu sarat dengan doktrinasi politik Marxisme-Leninisme, masa kuliah ini memberi Xi legitimasi teknokratis dan jaringan pertemanan baru di ibu kota, terutama menjelang berakhirnya Revolusi Kebudayaan setelah kematian Mao Zedong pada September 1976.
C. Rehabilitasi Nama Baik Keluarga Xi Zhongxun
Kebangkitan Deng Xiaoping pada 1978 membuka jalan rehabilitasi menyeluruh bagi para korban Revolusi Kebudayaan. Xi Zhongxun dipulihkan nama baiknya secara penuh dan ditugaskan memimpin Provinsi Guangdong, di mana ia merintis pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus Shenzhen.
Pemulihan nama baik keluarga membuka kembali akses kekuasaan bagi Xi Jinping. Lulus dari Tsinghua pada 1979, Xi langsung ditempatkan sebagai sekretaris pribadi (mishu) bagi Geng Biao, Wakil Perdana Menteri merangkap Sekretaris Jenderal Komisi Militer Pusat. Posisi strategis ini memberi Xi pemahaman mendalam tentang tata kelola komando Tentara Pembebasan Rakyat dan intrik politik di level tertinggi negara.
5. Meniti Karier Birokrasi dari Daerah ke Pusat
A. Penugasan di Wilayah Pedesaan dan Industri (Hebei & Fujian)
Alih-alih bertahan di lingkungan elite militer Beijing, Xi mengambil langkah strategis dengan meminta penugasan ke daerah tingkat bawah untuk membangun rekam jejak birokrasi independen. Pada 1982, ia menjabat sebagai Wakil Sekretaris Partai di Kabupaten Zhengding, Provinsi Hebei, memfokuskan program kerja pada modernisasi pertanian dan pariwisata lokal.
Pada 1985, Xi dipindahkan ke Provinsi Fujian, garis depan interaksi ekonomi dengan Taiwan. Selama 17 tahun di Fujian, Xi naik pangkat secara bertahap:
- Wakil Walikota Xiamen (1985)
- Ketua Partai Wilayah Ningde (1988)
- Ketua Partai Fuzhou (1990)
- Gubernur Provinsi Fujian (1999–2002)
Di Fujian, Xi membangun citra birokrat yang ramah investasi, mendukung sektor swasta, dan menghindari konfrontasi faksi politik terbuka.
B. Menguji Kepemimpinan di Zhejiang dan Penanganan Skandal Shanghai
Pada 2002, Xi dipromosikan menjadi Ketua Partai Provinsi Zhejiang, salah satu motor ekonomi swasta terkuat di China. Di wilayah ini, ia mempromosikan pendekatan pembangunan “Dua Gunung” (Two Mountains Theory) yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan perlindungan lingkungan, sembari menanamkan disiplin ketat pada birokrasi lokal.
Ujian politik besar datang pada Maret 2007 saat Chen Liangyu, Ketua Partai Shanghai, dipecat akibat skandal korupsi dana jaminan sosial bernilai triliunan yuan. Beijing menunjuk Xi Jinping sebagai pejabat pengganti untuk menstabilkan politik metropolis tersebut. Xi berhasil menyelesaikan transisi kepemimpinan di Shanghai tanpa menimbulkan gejolak internal partai, membuktikan kapasitasnya sebagai pengelola krisis yang andal.
C. Masuk ke Komite Tetap Politbiro
Keberhasilan di Shanghai mempercepat kenaikan status Xi ke panggung nasional. Dalam Kongres Nasional PKC ke-17 pada Oktober 2007, Xi terpilih langsung menjadi anggota Komite Tetap Politbiro, badan pembuat keputusan tertinggi di China.
Xi terpilih sebagai calon penerus Hu Jintao karena statusnya sebagai kandidat kompromi yang dapat diterima oleh dua faksi utama: faksi Tuanpai (berbasis Liga Pemuda Komunis di bawah Hu Jintao) dan faksi Princelings (anak-anak veteran revolusi yang didukung Jiang Zemin). Pada 2008, Xi dilantik sebagai Wakil Presiden China dan dipercaya mengawasi persiapan Olimpiade Musim Panas Beijing 2008 serta urusan Hong Kong dan Makau.
6. Mengamankan Kekuasaan Tertinggi: Dari Pemimpin Kompromi Menjadi Penguasa Tunggal
A. Pengangkatan sebagai Sekretaris Jenderal PKC (2012)
Pada Kongres Nasional PKC ke-18 pada November 2012, Xi Jinping resmi terpilih sebagai Sekretaris Jenderal PKC dan Ketua Komisi Militer Pusat, disusul penunjukan sebagai Presiden China pada Maret 2013.
Transisi ini diwarnai ketegangan internal menyusul skandal jatuhnya Bo Xilai, Ketua Partai Chongqing yang menjadi rival utama Xi. Kasus pembunuhan Neil Heywood dan insiden pembelotan Wang Lijun membongkar perpecahan dalam partai. Xi memanfaatkan krisis ini untuk menegaskan pentingnya disiplin terpusat dan loyalitas mutlak kepada kepemimpinan pusat.
B. Kampanye Antikorupsi Skala Besar (Tigers and Flies)
Segera setelah memegang kepemimpinan, Xi meluncurkan kampanye pemberantasan korupsi masif yang menargetkan pejabat elite (“harimau”) maupun aparat bawahan (“lalat”). Dipimpin oleh Wang Qishan di Komisi Pusat Inspeksi Disiplin (CCDI), operasi ini memeriksa lebih dari 4,7 juta pejabat.
Kampanye ini mereformasi birokrasi sekaligus menyingkirkan faksi-faksi penantang:
- Zhou Yongkang: Mantan anggota Komite Tetap Politbiro dan mantan kepala keamanan domestik.
- Xu Caihou & Guo Boxiong: Mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat.
- Sun Zhengcai: Mantan anggota Politbiro dan mantan Ketua Partai Chongqing.
Melalui restrukturisasi militer pada 2015, Xi merombak tata kelola Tentara Pembebasan Rakyat dan menempatkan seluruh garis komando di bawah kendali langsung Ketua Komisi Militer Pusat.
C. Sentralisasi Kekuasaan dan Penghapusan Batasan Masa Jabatan
Setelah mengamankan kendali atas partai, militer, dan aparat penegak hukum, Xi mulai melembagakan dominasi ideologinya. Pada Kongres PKC ke-19 tahun 2017, doktrin “Pemikiran Xi Jinping tentang Sosialisme dengan Karakteristik China untuk Era Baru” diintegrasikan ke dalam Piagam Partai Komunis China.
Puncak konsolidasi kekuasaan terjadi pada Maret 2018 ketika Kongres Rakyat Nasional menyetujui amandemen konstitusi yang menghapus batasan maksimal dua periode jabatan Presiden dan Wakil Presiden China. Kebijakan ini mengakhiri tradisi kepemimpinan kolektif era Deng Xiaoping. Pada Kongres PKC ke-20 tahun 2022, Xi resmi mengamankan masa jabatan periode ketiga sebagai Sekretaris Jenderal partai.
7. Kesimpulan
Transformasi Xi Jinping dari seorang remaja buangan di gua Liangjiahe menjadi figur paling berkuasa di China menggambarkan dinamika politik internal PKC. Pengalaman getir selama Revolusi Kebudayaan tidak menjauhkannya dari sistem kekuasaan yang sempat menekan keluarganya; masa lalu tersebut justru memotivasinya untuk menguasai mekanisme partai dari dalam.
Masa pembuangan membentuk gaya kepemimpinan Xi yang berorientasi pada disiplin, kontrol ketat, dan prioritas pada stabilitas institusional. Di kancah internasional, China di bawah Xi mengambil posisi yang lebih tegas melalui inisiatif global seperti Belt and Road Initiative, modernisasi militer, serta kompetisi strategis dengan negara-negara besar dunia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Mengapa keluarga Xi Jinping sempat kehilangan segalanya pada era 1960-an?
Ayah Xi Jinping, Xi Zhongxun, dicopot dari jabatannya pada 1962 akibat tuduhan mendukung faksi anti-partai terkait publikasi novel biografi Liu Zhidan. Saat Revolusi Kebudayaan meletus pada 1966, keluarga Xi menjadi sasaran persekusi politik dan pembuangan.
Apa yang dilakukan Xi Jinping selama masa pembuangannya di desa Liangjiahe?
Xi Jinping menghabiskan tujuh tahun (1969–1975) menjalani kerja fisik, tinggal di rumah gua (yaodong), membangun instalasi biogas pertama di Shaanxi, memimpin proyek penahan erosi, dan akhirnya terpilih menjadi Sekretaris Cabang Partai Desa.
Berapa kali permohonan Xi Jinping ditolak saat mendaftar masuk Partai Komunis China?
Permohonannya ditolak delapan kali saat mendaftar ke Liga Pemuda Komunis dan sepuluh kali saat mendaftar ke Partai Komunis China akibat latar belakang politik ayahnya, sebelum akhirnya diterima pada 1974.
Bagaimana Xi Jinping memanfaatkan kampanye antikorupsi untuk memperkuat kekuasaannya?
Kampanye “Harimau dan Lalat” memeriksa jutaan pejabat, membersihkan institusi negara dari korupsi sekaligus melemahkan jaringan faksi politik pesaing di jajaran militer dan birokrasi sipil.
Kapan batasan masa jabatan Presiden China dihapus untuk Xi Jinping?
Batasan masa jabatan dua periode dihapus melalui amandemen konstitusi oleh Kongres Rakyat Nasional pada Maret 2018, membuka jalan bagi Xi Jinping untuk memimpin tanpa batasan periode formal.