Pemilu Israel 2026: Netanyahu Unggul Tipis, Belum Mayoritas
Pemilu Israel 2026 berlangsung ketat antara Benjamin Netanyahu dan kubu oposisi. Sejumlah laporan menyebut Netanyahu unggul tipis, sedangkan laporan lain menempatkan oposisi sedikit di depan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa hasil sementara belum dapat dianggap sebagai gambaran final sebelum rekapitulasi resmi dan pembagian kursi Knesset diumumkan.
Persoalan utamanya bukan hanya pihak yang memperoleh suara terbanyak. Dalam sistem parlementer Israel, partai atau blok politik harus mengumpulkan dukungan mayoritas kursi untuk membentuk pemerintahan. Karena itu, keunggulan relatif Netanyahu belum otomatis menjamin dirinya kembali menjadi perdana menteri.
Partai kecil, termasuk partai Arab Israel, dapat menjadi penentu. Mereka dapat bergabung dengan salah satu kubu, mendukung pemerintahan dari luar kabinet, atau menolak mendukung kedua pihak utama. Jika tidak ada blok yang memperoleh dukungan cukup, Israel dapat menghadapi negosiasi panjang, pemerintahan minoritas, atau pemilu ulang.
Catatan: Sumber yang tersedia belum mencantumkan rekapitulasi resmi suara dan kursi secara lengkap. Angka final perlu diverifikasi melalui lembaga penyelenggara pemilu Israel sebelum digunakan sebagai dasar kesimpulan definitif.
Persaingan Netanyahu dan Oposisi
Laporan yang dirangkum dari DW menyebut Netanyahu masih berpeluang mempertahankan jabatannya setelah pemilu Israel 2026 (Sumber 1).
Sebaliknya, laporan Bloomberg Technoz dalam ringkasan sumber menyatakan oposisi unggul tipis atas Netanyahu (Sumber 3). Perbedaan tersebut dapat muncul karena media menggunakan ukuran yang berbeda, seperti jumlah suara nasional, jumlah kursi partai, kekuatan blok pendukung, atau peluang membentuk pemerintahan.
Laporan lain menggambarkan hasil yang sangat ketat, dengan Netanyahu dan oposisi sama-sama belum mencapai mayoritas (Sumber 9). Kesimpulan sementara yang paling aman adalah belum ada pihak yang menguasai pemerintahan secara langsung.
Mengapa Keunggulan Tipis Belum Cukup?
Israel menggunakan sistem pemilu parlementer. Warga memilih partai, bukan perdana menteri secara langsung. Kursi Knesset kemudian dibagikan berdasarkan perolehan suara partai yang memenuhi ambang batas pemilu.
Setelah komposisi parlemen terbentuk, presiden berkonsultasi dengan partai-partai untuk menentukan kandidat yang dianggap paling mampu membangun pemerintahan. Kandidat tersebut harus menyusun koalisi dengan dukungan politik yang memadai.
Knesset memiliki 120 kursi. Mayoritas umum berarti sekurang-kurangnya 61 kursi. Namun, partai dengan suara terbanyak belum tentu membentuk pemerintahan jika tidak mampu mengumpulkan dukungan koalisi.
Peluang Netanyahu dan Oposisi
Netanyahu masih memiliki peluang karena pengalaman panjangnya dalam membangun pemerintahan koalisi (Sumber 7). Peluang itu bergantung pada jumlah kursi partai pendukung, kesediaan partai kecil untuk bergabung, kemampuan lawan membentuk blok alternatif, dan isi kesepakatan koalisi.
Jika partai kanan dan agama tetap solid, Netanyahu dapat memperoleh mandat awal. Namun, mandat tersebut tidak menjamin pemerintahan terbentuk. Mitra koalisi dapat menuntut jabatan kabinet, anggaran, atau komitmen terhadap kebijakan tertentu.
Oposisi juga belum otomatis kalah. Mereka dapat membentuk pemerintahan alternatif dengan menggalang partai tengah, kiri, kanan, dan Arab. Kesepakatan minimum mengenai pembentukan pemerintahan, anggaran, serta kebijakan prioritas dapat menjadi dasar koalisi meskipun mereka berbeda ideologi.
Tantangan terbesar oposisi adalah menyatukan pandangan mengenai keamanan, ekonomi, agama, dan hubungan dengan Palestina. Kesepakatan rotasi jabatan perdana menteri dapat menjadi jalan keluar, tetapi memerlukan kepercayaan dan mekanisme penyelesaian konflik.
Peran Partai Arab dan Partai Kecil
Dalam parlemen yang terfragmentasi, beberapa kursi dapat menentukan tercapai atau tidaknya mayoritas. Partai Arab dapat bergabung dalam koalisi, mendukung pemerintah dari luar kabinet, tidak mengikuti pemungutan suara tertentu, atau menolak mendukung kedua blok utama.
Isu yang mungkin menjadi syarat dukungan meliputi anggaran layanan publik, infrastruktur, perumahan, keamanan domestik, kesetaraan sosial dan politik, serta kebijakan terhadap konflik Israel-Palestina.
Kerja sama dengan salah satu kubu dapat memicu penolakan dari basis pemilih. Perpecahan di antara partai Arab juga dapat mengurangi daya tawar mereka dalam negosiasi.
Proses Pembentukan Pemerintahan
Setelah hasil resmi diumumkan, presiden Israel mendengarkan rekomendasi partai mengenai kandidat yang dianggap mampu membentuk kabinet. Kandidat yang memperoleh mandat harus membangun koalisi dalam batas waktu yang ditetapkan. Jika gagal, mandat dapat dialihkan kepada kandidat lain.
Negosiasi biasanya mencakup jabatan perdana menteri, posisi menteri, anggaran, kebijakan keamanan dan ekonomi, isu agama dan sosial, serta hubungan dengan Palestina dan negara lain.
Pemerintahan minoritas juga mungkin terbentuk jika memperoleh dukungan cukup dalam pemungutan suara penting. Model ini lebih rapuh karena setiap rancangan undang-undang dapat menjadi ujian kepercayaan.
Jika semua upaya pembentukan pemerintahan gagal, parlemen dapat dibubarkan dan pemilu ulang diselenggarakan. Pemilu ulang tidak menjamin perubahan komposisi Knesset.
Dampak terhadap Israel dan Pasar
Ketidakpastian koalisi dapat menunda keputusan strategis mengenai keamanan, gencatan senjata, Palestina, Iran, dan hubungan dengan negara-negara Arab. Pemerintahan yang rapuh juga dapat kesulitan menjalankan kebijakan jangka panjang.
Salah satu sumber mengaitkan penurunan harga minyak dengan perkembangan Iran, pemilu Israel, dan upaya perdamaian di Timur Tengah (Sumber 5). Namun, pemilu bukan satu-satunya faktor. Harga minyak juga dipengaruhi risiko konflik regional, kebijakan Iran, gangguan pasokan, perkembangan perdamaian, dan ekspektasi investor.
Hal yang Perlu Dipantau
- Rekapitulasi resmi dan perbedaan antara suara nasional serta pembagian kursi.
- Rekomendasi partai kepada Netanyahu atau kandidat oposisi.
- Tuntutan jabatan, anggaran, dan kebijakan dalam kesepakatan koalisi.
- Kemampuan setiap blok mengamankan sedikitnya 61 kursi atau dukungan efektif dalam pemungutan suara penting.
Kesimpulan
Pemilu Israel 2026 menghasilkan persaingan ketat. Netanyahu dilaporkan unggul tipis dalam sejumlah pemberitaan, sementara laporan lain menempatkan oposisi sedikit di depan. Suara terbanyak, jumlah kursi terbanyak, dan kemampuan membentuk pemerintahan merupakan tiga hal yang berbeda.
Netanyahu masih berpeluang mempertahankan jabatan, tetapi membutuhkan dukungan partai lain. Oposisi dapat membentuk pemerintahan alternatif jika mampu menyatukan partai-partai yang berbeda ideologi. Partai Arab dan partai kecil berpotensi menjadi penentu.
Tahap penting berikutnya adalah pengumuman hasil resmi, pemberian mandat, dan negosiasi koalisi. Keunggulan sementara belum menjamin terbentuknya pemerintahan baru.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah Benjamin Netanyahu memenangkan pemilu Israel?
Belum dapat dipastikan. Sejumlah sumber menyebut Netanyahu unggul tipis, sedangkan laporan lain menyatakan oposisi sedikit di depan. Jawaban final harus berdasarkan hasil resmi dan pembagian kursi.
Mengapa Netanyahu belum tentu dapat membentuk pemerintahan?
Keunggulan suara atau kursi tidak otomatis menghasilkan mayoritas. Netanyahu tetap membutuhkan dukungan partai lain untuk mencapai sedikitnya 61 kursi atau memperoleh dukungan efektif dalam pemungutan suara penting.
Mengapa partai Arab dapat menentukan hasil pemilu?
Partai Arab dapat memiliki kursi yang diperlukan untuk membuat salah satu blok mendekati atau mencapai mayoritas. Mereka dapat bergabung dalam kabinet, mendukung pemerintah dari luar, atau menolak kedua kubu.
Apa yang terjadi jika tidak ada koalisi?
Mandat dapat diberikan kepada kandidat lain. Jika seluruh upaya gagal, parlemen berpotensi dibubarkan dan Israel dapat menggelar pemilu ulang.
Bagaimana hasil pemilu memengaruhi harga minyak?
Hasil pemilu dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap stabilitas Timur Tengah, tetapi harga minyak juga dipengaruhi perkembangan Iran, risiko konflik, pasokan global, dan upaya perdamaian.