5 Infeksi yang Berkaitan dengan 2,3 Juta Kasus Kanker
Sebagian kanker berkaitan dengan infeksi yang berlangsung lama. Infeksi dapat memicu peradangan kronis, merusak jaringan, mengganggu pengendalian pertumbuhan sel, atau meningkatkan frekuensi regenerasi sel.
Namun, infeksi tidak otomatis menyebabkan kanker pada setiap orang. Risiko dipengaruhi oleh durasi infeksi, kondisi kekebalan tubuh, faktor genetik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan, dan paparan lingkungan. Karena itu, infeksi sebaiknya dipahami sebagai salah satu faktor risiko, bukan penyebab tunggal pada semua kasus.
Angka 2,3 juta kasus kanker baru juga perlu dibaca secara hati-hati. Angka tersebut harus disertai tahun penghitungan, wilayah cakupan, jenis kanker, definisi infeksi terkait, dan metode penelitian. Tanpa konteks itu, angka tersebut tidak dapat digunakan untuk memperkirakan risiko seseorang.
Lima infeksi yang paling sering dibahas dalam kaitannya dengan kanker adalah Helicobacter pylori, human papillomavirus (HPV), virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan virus Epstein-Barr (EBV).
1. Helicobacter pylori
Helicobacter pylori atau H. pylori adalah bakteri yang dapat menginfeksi lapisan lambung. Sebagian orang tidak mengalami gejala, sedangkan sebagian lainnya mengalami nyeri ulu hati, mual, kembung, atau gangguan pencernaan berulang.
Infeksi yang menetap dapat menyebabkan gastritis kronis. Dalam jangka panjang, peradangan dapat menimbulkan atrofi mukosa, yaitu penipisan lapisan lambung. Jaringan lambung juga dapat mengalami metaplasia usus, yaitu perubahan sel lambung menjadi sel yang menyerupai sel usus.
Metaplasia usus bukan kanker. Namun, kondisi ini dapat menjadi bagian dari rangkaian perubahan prakanker yang pada sebagian orang berkembang menjadi kanker lambung. H. pylori juga berkaitan dengan sebagian limfoma jaringan limfoid terkait mukosa lambung.
Risiko dapat meningkat pada orang yang memiliki:
- Riwayat keluarga kanker lambung.
- Pola makan tinggi garam atau makanan yang diawetkan.
- Kebiasaan merokok.
- Sanitasi buruk.
- Kepadatan tempat tinggal tinggi.
- Infeksi yang tidak diobati atau menetap.
Pemeriksaan H. pylori dapat dipertimbangkan jika terdapat keluhan lambung berulang, riwayat tukak lambung, anemia tertentu, atau faktor risiko kanker lambung. Pengobatan biasanya menggunakan kombinasi obat penekan asam dan antibiotik sesuai resep dokter.
Antibiotik tidak boleh digunakan secara mandiri. Setelah terapi, dokter dapat menyarankan pemeriksaan ulang untuk memastikan bakteri telah berhasil dibasmi.
2. Human papillomavirus
Human papillomavirus atau HPV terdiri atas banyak tipe. Tipe berisiko rendah lebih sering menyebabkan kutil, sedangkan tipe berisiko tinggi dapat menyebabkan perubahan prakanker pada sel.
HPV berisiko tinggi berkaitan dengan beberapa jenis kanker, yaitu:
- Kanker serviks.
- Kanker anus.
- Kanker penis.
- Kanker vulva.
- Kanker vagina.
- Sebagian kanker orofaring.
Sebagian besar infeksi HPV tidak menimbulkan gejala dan dapat hilang berkat sistem kekebalan tubuh. Masalah dapat muncul ketika infeksi berisiko tinggi menetap. Virus tersebut dapat mengganggu mekanisme pengendalian pertumbuhan sel sehingga terjadi perubahan prakanker.
HPV terutama menular melalui kontak seksual, termasuk kontak kulit dengan kulit di area genital. Kondom dapat mengurangi risiko, tetapi tidak memberikan perlindungan penuh karena tidak menutupi seluruh area kulit yang mungkin terpapar.
Vaksinasi HPV merupakan salah satu cara utama untuk mengurangi risiko infeksi oleh tipe HPV berisiko tinggi. Vaksin paling efektif diberikan sesuai jadwal sebelum seseorang terpapar virus. Usia pemberian dan jumlah dosis dapat berbeda berdasarkan kondisi individu.
Skrining kanker serviks tetap diperlukan meskipun seseorang telah menerima vaksin HPV. Skrining dapat menemukan perubahan prakanker sebelum berkembang menjadi kanker. Jenis pemeriksaan dan jadwalnya perlu mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.
Berhenti merokok juga penting karena merokok dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh dan memperburuk risiko perubahan sel terkait HPV.
3. Virus hepatitis B
Virus hepatitis B menyerang hati dan dapat menyebabkan infeksi akut maupun kronis. Banyak orang dengan hepatitis B kronis tidak mengalami gejala selama bertahun-tahun meskipun kerusakan hati terus berlangsung.
Infeksi kronis dapat menyebabkan:
- Peradangan hati.
- Sirosis.
- Gagal hati.
- Karsinoma hepatoseluler atau kanker hati primer.
Peradangan dan kerusakan hati yang berulang memaksa sel hati terus melakukan regenerasi. Siklus kerusakan dan perbaikan tersebut dapat meningkatkan peluang munculnya perubahan sel yang berpotensi menjadi kanker.
Hepatitis B dapat menular melalui:
- Penularan dari ibu ke bayi saat persalinan.
- Darah yang terinfeksi.
- Hubungan seksual tanpa perlindungan.
- Berbagi jarum.
- Alat medis yang tidak steril.
- Alat tindik atau tato yang terkontaminasi.
Vaksin hepatitis B merupakan pencegahan utama. Bayi perlu menerima vaksin sesuai jadwal imunisasi, sedangkan orang dewasa dengan faktor risiko mungkin memerlukan pemeriksaan dan vaksinasi berdasarkan penilaian tenaga kesehatan.
Pencegahan lain meliputi tidak berbagi jarum, alat cukur, atau sikat gigi. Alat yang dapat terkena darah harus digunakan secara pribadi. Prosedur tato, tindik, dan perawatan medis perlu dilakukan dengan alat steril.
Pemeriksaan hepatitis penting bagi orang yang pernah terpapar darah berisiko, memiliki pasangan dengan hepatitis, berasal dari kelompok dengan prevalensi tinggi, atau memiliki hasil pemeriksaan hati yang tidak normal. Pasien dengan hepatitis B kronis memerlukan pemantauan hati secara berkala.
4. Virus hepatitis C
Virus hepatitis C terutama menular melalui paparan darah. Infeksi ini sering berlangsung tanpa gejala sehingga seseorang dapat baru mengetahuinya setelah mengalami kerusakan hati.
Hepatitis C kronis dapat menyebabkan:
- Peradangan hati menetap.
- Fibrosis.
- Sirosis.
- Kanker hati.
- Sebagian gangguan limfatik tertentu.
Jalur penularannya mencakup berbagi jarum, penggunaan alat medis yang tidak aman, tato atau tindik dengan alat tidak steril, serta transfusi darah yang tidak melalui pemeriksaan memadai.
Hepatitis C tidak terutama menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, atau menggunakan peralatan makan yang sama. Penularan berkaitan dengan darah, bukan kontak sosial biasa.
Berbeda dari hepatitis B, vaksin hepatitis C belum tersedia untuk penggunaan umum. Namun, obat antivirus kerja langsung dapat menyembuhkan banyak kasus hepatitis C. Diagnosis dini penting karena pengobatan dapat mengurangi risiko kerusakan hati dan komplikasi jangka panjang.
Pencegahan dapat dilakukan dengan tidak berbagi jarum, alat cukur, atau sikat gigi; memastikan prosedur medis, tato, dan tindik menggunakan alat steril; melakukan pemeriksaan setelah kemungkinan paparan darah; serta mengikuti pengobatan sampai selesai.
5. Virus Epstein-Barr
Virus Epstein-Barr atau EBV termasuk kelompok virus herpes. Sebagian besar orang pernah terpapar EBV, biasanya melalui air liur. Pada banyak orang, infeksi tidak menimbulkan masalah berat atau hanya menyebabkan gejala sementara.
Dalam kondisi tertentu, EBV berkaitan dengan:
- Limfoma Burkitt.
- Sebagian limfoma Hodgkin.
- Karsinoma nasofaring.
- Beberapa kanker lambung.
Keberadaan EBV tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker. Risiko dipengaruhi oleh kondisi sistem kekebalan tubuh, faktor genetik, lingkungan, serta kemungkinan adanya infeksi atau paparan lain.
EBV dapat menyebar melalui pertukaran air liur, misalnya saat berbagi minuman atau peralatan makan. Namun, menghindari semua paparan tidak selalu dapat mencegah penularan karena virus ini sangat umum. Saat ini belum tersedia vaksin EBV untuk penggunaan umum.
Bagaimana Infeksi Dapat Memicu Kanker?
Peradangan kronis
Infeksi yang menetap membuat sistem kekebalan tubuh terus aktif. Peradangan berulang dapat merusak jaringan dan meningkatkan kemungkinan kesalahan ketika sel memperbaiki diri.
Gangguan terhadap pertumbuhan sel
Sebagian virus menghasilkan protein yang mengganggu mekanisme pengendalian pertumbuhan sel. Jika mekanisme tersebut rusak, sel dapat berkembang tanpa kendali dan menghindari proses kematian sel yang normal.
Kerusakan jaringan dan regenerasi berulang
Organ yang terus mengalami kerusakan akan melakukan regenerasi berkali-kali. Semakin sering sel membelah, semakin besar peluang terjadinya perubahan genetik.
Perubahan prakanker
Metaplasia, displasia, fibrosis, dan sirosis bukan sinonim kanker. Namun, kondisi tersebut dapat menunjukkan perubahan jaringan yang memerlukan pemantauan.
Apa Arti Angka 2,3 Juta Kasus Kanker Baru?
Angka 2,3 juta kasus kanker baru tidak boleh dipahami sebagai jumlah pasti yang secara langsung disebabkan oleh lima infeksi tersebut. Angka epidemiologi harus dilengkapi dengan:
- Tahun estimasi.
- Negara atau wilayah penelitian.
- Jenis kanker yang dihitung.
- Definisi infeksi terkait.
- Metode pengumpulan data.
- Perbedaan antara infeksi saat ini dan riwayat infeksi.
Ada perbedaan antara kanker yang secara biologis disebabkan oleh infeksi, kanker pada orang yang pernah terinfeksi, dan kanker yang menjadikan infeksi sebagai salah satu dari banyak faktor risiko.
Angka 2,3 juta merupakan estimasi populasi, bukan prediksi risiko individu.
Angka tersebut sebaiknya diperiksa melalui basis data kanker internasional atau penelitian epidemiologi primer sebelum dipublikasikan.
Pencegahan yang Dapat Dilakukan
Vaksinasi
Vaksin hepatitis B membantu mencegah infeksi kronis yang dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati. Vaksin HPV membantu mengurangi risiko kanker yang berkaitan dengan tipe HPV berisiko tinggi.
Ikuti jadwal vaksinasi sesuai usia, kondisi kesehatan, dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Pemeriksaan dan skrining
Pemeriksaan hepatitis penting bagi orang dengan faktor risiko. Skrining kanker serviks membantu menemukan perubahan prakanker akibat HPV. Pemeriksaan H. pylori dapat dipertimbangkan jika terdapat gejala, riwayat tukak, atau faktor risiko tertentu.
Pasien dengan hepatitis kronis memerlukan pemantauan fungsi dan struktur hati secara berkala.
Perilaku aman
Hindari berbagi jarum, alat cukur, dan sikat gigi. Pastikan alat medis, tato, dan tindik steril. Gunakan perlindungan saat berhubungan seksual. Jangan menggunakan antibiotik atau obat antivirus tanpa pemeriksaan dan resep dokter.
Gaya hidup
Berhenti merokok dapat menurunkan risiko kanker dan komplikasi infeksi. Batasi alkohol, terutama jika memiliki penyakit hati. Konsumsi makanan seimbang dan pertahankan berat badan sehat.
Vape juga tidak dapat dianggap sepenuhnya aman. Aerosol vape dapat mengandung zat kimia yang berpotensi membahayakan paru-paru, sedangkan dampak jangka panjangnya masih diteliti.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Konsultasikan kondisi kepada dokter jika mengalami:
- Kulit atau mata menguning.
- Urine berwarna gelap atau feses pucat.
- Nyeri perut yang menetap.
- Penurunan berat badan tanpa sebab jelas.
- Muntah berulang.
- Sulit menelan.
- Benjolan yang tidak membaik.
- Perdarahan yang tidak biasa.
- Riwayat paparan darah.
- Riwayat hubungan seksual berisiko.
- Riwayat keluarga kanker lambung, hati, atau kanker terkait HPV.
Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker. Namun, gejala yang menetap atau memburuk perlu diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui sejak dini.
Kesimpulan
Lima infeksi yang berkaitan dengan peningkatan risiko kanker adalah H. pylori, HPV, hepatitis B, hepatitis C, dan EBV. Infeksi dapat berperan melalui peradangan kronis, kerusakan jaringan, regenerasi sel berulang, serta gangguan terhadap pengendalian pertumbuhan sel.
Infeksi bukan vonis kanker. Vaksinasi, skrining, pemeriksaan dini, pengobatan yang tepat, dan perilaku aman dapat menurunkan risiko komplikasi. Angka 2,3 juta kasus juga harus disertai sumber statistik, tahun, wilayah, dan metode penghitungan yang jelas.
Tanya Jawab
Apakah semua orang yang mengalami infeksi akan terkena kanker?
Tidak. Sebagian besar orang dengan infeksi tidak mengalami kanker. Risiko dipengaruhi oleh lamanya infeksi, kondisi kekebalan tubuh, faktor genetik, kebiasaan hidup, dan paparan lingkungan.
Infeksi apa yang paling berkaitan dengan kanker lambung?
Helicobacter pylori merupakan salah satu infeksi utama yang berkaitan dengan kanker lambung. Infeksi kronis dapat menyebabkan gastritis, atrofi, dan metaplasia usus yang memerlukan evaluasi medis.
Apakah hepatitis B dan hepatitis C dapat menyebabkan kanker hati?
Keduanya dapat meningkatkan risiko kanker hati, terutama jika infeksi berlangsung kronis dan menyebabkan kerusakan hati. Pemeriksaan, pengobatan, dan pemantauan dapat membantu menurunkan risiko komplikasi.
Apakah vaksin HPV dapat mencegah kanker?
Vaksin HPV membantu mencegah infeksi oleh tipe HPV berisiko tinggi yang berkaitan dengan beberapa jenis kanker. Vaksin tidak menggantikan skrining kanker serviks.
Apakah vape menyebabkan kanker paru?
Dampak jangka panjang vape masih diteliti. Aerosol vape dapat mengandung zat kimia yang berpotensi membahayakan paru-paru sehingga vape tidak dapat dianggap bebas risiko.
Bagaimana cara mengetahui apakah seseorang mengalami infeksi terkait kanker?
Diagnosis memerlukan pemeriksaan sesuai jenis infeksinya, seperti tes darah untuk hepatitis, skrining HPV, atau pemeriksaan H. pylori. Dokter menentukan pemeriksaan berdasarkan gejala dan faktor risiko.