Sebagian kasus kanker berkaitan dengan infeksi tertentu. Lima infeksi yang disebut berhubungan dengan sekitar 2,3 juta kasus kanker baru di dunia adalah Helicobacter pylori, human papillomavirus (HPV), virus hepatitis B, virus hepatitis C, dan virus Epstein-Barr (EBV).
Namun, infeksi tidak berarti seseorang pasti mengalami kanker. Risiko dipengaruhi oleh lamanya infeksi, kondisi sistem kekebalan tubuh, usia, faktor genetik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, pola makan, serta akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan.
Infeksi yang menetap dapat meningkatkan risiko melalui peradangan kronis, kerusakan jaringan, atau perubahan fungsi sel. Vaksinasi, skrining, kebiasaan hidup sehat, dan terapi yang tepat dapat membantu menurunkan risiko.
Mengapa infeksi dapat meningkatkan risiko kanker?
Peradangan kronis
Infeksi jangka panjang membuat sistem kekebalan terus aktif. Peradangan berulang dapat merusak jaringan dan memaksa sel membelah berkali-kali untuk memperbaiki kerusakan. Semakin sering sel membelah, semakin besar peluang terjadinya kesalahan pada materi genetik.
Perubahan fungsi sel
Beberapa virus menghasilkan protein atau membawa materi genetik yang mengganggu pengaturan pembelahan sel, perbaikan DNA, dan kematian sel yang rusak. Bakteri juga dapat meningkatkan risiko melalui peradangan dan kerusakan jaringan yang berlangsung lama.
Hasil tes infeksi bukan diagnosis kanker. Pemeriksaan lanjutan diperlukan berdasarkan gejala, faktor risiko, dan rekomendasi tenaga kesehatan.
1. Helicobacter pylori dan kanker lambung
H. pylori adalah bakteri yang dapat hidup di lapisan lambung. Infeksinya sering tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat menyebabkan gastritis dan tukak lambung. Jika menetap, peradangan dapat mengubah jaringan lambung dan meningkatkan risiko kanker lambung serta limfoma MALT.
Risiko dipengaruhi oleh jenis bakteri, faktor genetik, pola makan, kebiasaan merokok, dan lamanya infeksi.
Langkah yang dapat dilakukan:
- Mencuci tangan dengan sabun.
- Mengonsumsi makanan dan air yang aman.
- Berkonsultasi jika mengalami nyeri lambung berulang, mual menetap, mudah kenyang, muntah, atau penurunan berat badan tanpa sebab.
- Menjalani pemeriksaan sesuai penilaian dokter.
- Mengonsumsi antibiotik sesuai resep dan menyelesaikan terapi.
Jangan menggunakan obat untuk H. pylori tanpa pemeriksaan dan petunjuk dokter. Penghentian antibiotik terlalu cepat dapat meningkatkan risiko resistansi.
2. HPV dan kanker pada organ reproduksi
HPV merupakan kelompok virus yang sangat umum dan terutama menular melalui kontak seksual, termasuk kontak kulit ke kulit di area genital. Sebagian besar infeksi dapat dikendalikan sistem kekebalan, tetapi infeksi tipe berisiko tinggi yang menetap dapat menyebabkan perubahan prakanker.
HPV dikaitkan dengan:
- Kanker serviks atau leher rahim.
- Kanker anus.
- Kanker penis.
- Kanker vulva.
- Kanker vagina.
- Sebagian kanker orofaring.
Vaksinasi HPV membantu mencegah infeksi dari tipe virus tertentu. Vaksin tidak mengobati infeksi yang sudah terjadi, sehingga orang yang telah divaksin tetap perlu menjalani skrining kanker serviks sesuai rekomendasi medis.
Kondom dapat menurunkan risiko penularan, tetapi tidak memberikan perlindungan mutlak. Berhenti merokok juga penting karena rokok dapat mengganggu sistem kekebalan dan memperburuk perubahan sel akibat infeksi HPV yang menetap.
3. Hepatitis B dan kanker hati
Hepatitis B menyerang hati dan dapat bersifat akut atau kronis. Infeksi kronis menyebabkan peradangan dan kerusakan hati selama bertahun-tahun, yang dapat berkembang menjadi fibrosis, sirosis, dan karsinoma hepatoseluler.
Penularan dapat terjadi melalui darah, jarum suntik yang digunakan bergantian, alat medis atau pribadi yang tidak steril, hubungan seksual tanpa perlindungan, serta dari ibu kepada bayi saat persalinan. Hepatitis B tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, atau kontak sosial biasa.
Vaksinasi merupakan langkah utama pencegahan. Langkah lain meliputi tidak berbagi jarum, alat cukur, atau sikat gigi; memastikan alat tato dan tindik steril; serta menjalani pemeriksaan dan pemantauan hati jika memiliki faktor risiko atau hepatitis B kronis.
4. Hepatitis C dan kerusakan hati kronis
Hepatitis C terutama menular melalui darah dan sering tidak menimbulkan gejala selama bertahun-tahun. Infeksi kronis dapat menyebabkan peradangan, jaringan parut, sirosis, dan peningkatan risiko kanker hati.
Hepatitis C belum memiliki vaksin, tetapi dapat diobati dengan obat antivirus tertentu. Jenis obat dan lama terapi ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan serta kondisi pasien.
Pencegahannya meliputi:
- Tidak menggunakan jarum secara bergantian.
- Memastikan alat tato, tindik, dan peralatan medis steril.
- Menjalani pemeriksaan jika memiliki faktor risiko.
- Mengikuti terapi sampai selesai jika terdiagnosis.
- Tidak mendonorkan darah sebelum status infeksi dinyatakan aman.
Hepatitis C tidak menular melalui pelukan, batuk, bersin, atau berbagi makanan.
5. Virus Epstein-Barr dan beberapa jenis kanker
EBV termasuk kelompok virus herpes dan sangat umum. Infeksi awal dapat tidak menimbulkan gejala atau menyebabkan demam, kelelahan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Setelah itu, virus dapat menetap di dalam tubuh.
Dalam kondisi tertentu, EBV dikaitkan dengan limfoma Hodgkin, limfoma Burkitt, karsinoma nasofaring, dan beberapa jenis limfoma lain, terutama pada orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh.
Sebagian besar orang yang terinfeksi EBV tidak mengalami kanker. Pemeriksaan EBV tidak perlu dilakukan secara rutin pada semua orang. Dokter menentukan perlunya tes berdasarkan gejala, kondisi imunitas, dan hasil evaluasi klinis.
Perbandingan lima infeksi
| Infeksi | Kanker yang dikaitkan | Pencegahan utama |
|---|---|---|
| H. pylori | Kanker lambung dan limfoma MALT | Kebersihan makanan, pemeriksaan, dan terapi |
| HPV | Kanker serviks, anus, penis, vulva, vagina, dan orofaring | Vaksinasi dan skrining |
| Hepatitis B | Kanker hati | Vaksinasi dan pemantauan infeksi kronis |
| Hepatitis C | Kanker hati | Pencegahan paparan darah dan pengobatan |
| EBV | Beberapa limfoma dan karsinoma nasofaring | Evaluasi medis bila bergejala |
Peran pencegahan
Vaksin HPV dan hepatitis B membantu mencegah infeksi yang berkaitan dengan kanker. Skrining kanker serviks dapat menemukan perubahan prakanker, sedangkan pemeriksaan hepatitis dan H. pylori membantu mendeteksi infeksi yang tidak selalu menimbulkan gejala.
Risiko juga dapat dikelola dengan tidak merokok, membatasi alkohol, menjaga berat badan, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, tidak berbagi jarum, menggunakan alat medis yang steril, serta mengikuti pengobatan dan pemantauan sampai tuntas.
Kapan perlu berkonsultasi dengan dokter?
Konsultasikan kondisi kepada dokter jika mengalami nyeri lambung berulang, mual atau mudah kenyang menetap, penurunan berat badan tanpa sebab, kulit dan mata menguning, urine gelap, perut membesar, perdarahan tidak biasa, benjolan menetap, sakit tenggorokan atau sulit menelan dalam waktu lama, riwayat paparan darah, hubungan seksual berisiko, atau hasil tes menunjukkan infeksi HPV, hepatitis B, atau hepatitis C.
Gejala tersebut tidak selalu berarti kanker, tetapi pemeriksaan diperlukan untuk menemukan penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.
Kesimpulan
H. pylori, HPV, hepatitis B, hepatitis C, dan EBV dikaitkan dengan sekitar 2,3 juta kasus kanker baru. Infeksi tersebut dapat meningkatkan risiko melalui peradangan kronis, kerusakan jaringan, atau perubahan fungsi sel.
Infeksi bukan kepastian munculnya kanker. Vaksinasi, kebersihan makanan dan air, perilaku seksual yang lebih aman, pencegahan paparan darah, skrining, dan terapi medis dapat membantu menurunkan risiko. Jangan mendiagnosis diri sendiri berdasarkan informasi ini. Konsultasikan gejala, hasil tes, atau faktor risiko kepada tenaga kesehatan.
FAQ
Apakah semua infeksi tersebut pasti menyebabkan kanker?
Tidak. Sebagian besar orang yang terinfeksi tidak otomatis mengalami kanker. Risiko dipengaruhi oleh durasi infeksi, kondisi imunitas, faktor genetik, gaya hidup, dan pengobatan.
Apakah HPV dapat hilang dengan sendirinya?
Sebagian besar infeksi HPV dapat dikendalikan sistem kekebalan. Namun, infeksi tipe berisiko tinggi yang menetap dapat menyebabkan perubahan prakanker. Vaksinasi dan skrining tetap diperlukan.
Apakah vaksin hepatitis B mencegah kanker hati?
Vaksin hepatitis B membantu mencegah infeksi yang dapat menyebabkan kerusakan hati kronis dan kanker hati. Vaksin tidak mencegah semua penyebab kanker hati.
Apakah hepatitis C bisa disembuhkan?
Hepatitis C dapat diobati dengan obat antivirus tertentu. Pemeriksaan dan pengobatan harus dilakukan di bawah pengawasan dokter.
Apakah infeksi H. pylori pasti menyebabkan kanker lambung?
Tidak. Infeksi meningkatkan risiko pada kondisi tertentu, tetapi tidak berarti kanker lambung pasti terjadi. Pemeriksaan dan terapi yang tepat dapat membantu mengendalikan infeksi.
Haruskah semua orang menjalani tes EBV?
Tidak. EBV sangat umum dan pemeriksaan tidak diperlukan bagi semua orang tanpa alasan medis. Dokter menentukannya berdasarkan gejala dan kondisi kesehatan.