Apakah Bulan dan Matahari Bisa Memicu Gempa Bumi?
Gravitasi Bulan dan Matahari memengaruhi Bumi, terutama melalui pasang surut laut dan deformasi kecil pada kerak. Namun, pengaruh tersebut tidak berarti keduanya menjadi penyebab utama sebagian besar gempa bumi.
Gempa terutama terjadi akibat akumulasi dan pelepasan energi karena pergerakan lempeng tektonik. Gaya pasang surut mungkin berperan sebagai pemicu tambahan pada patahan yang sudah sangat tegang, tetapi tidak menciptakan seluruh energi gempa dari awal.
Bagaimana Gempa Bumi Terjadi?
Litosfer, yaitu kerak Bumi dan bagian atas mantel, terbagi menjadi lempeng tektonik yang bergerak perlahan. Pergerakannya biasanya hanya beberapa sentimeter per tahun, tetapi dapat menimbulkan tekanan besar ketika patahan atau bagian kerak saling mengunci.
Energi tersimpan di dalam batuan dan dilepaskan secara tiba-tiba ketika tegangan melampaui kekuatan batuan atau gaya gesek. Pelepasan itu menghasilkan gelombang seismik.
Batas lempeng terbagi menjadi tiga jenis:
- Konvergen, ketika dua lempeng saling mendekat.
- Divergen, ketika dua lempeng saling menjauh.
- Transform, ketika dua lempeng bergeser mendatar berlawanan arah.
Indonesia berada di kawasan pertemuan beberapa lempeng tektonik sehingga memiliki aktivitas gempa yang tinggi. Menurut USGS, gempa terjadi ketika tegangan dalam batuan menyebabkan patahan bergeser secara mendadak.
Peran patahan
Patahan merupakan rekahan di kerak Bumi yang memungkinkan dua blok batuan bergerak relatif satu sama lain. Proses gempa dapat diringkas sebagai berikut:
- Lempeng terus bergerak.
- Gaya gesek menahan permukaan patahan.
- Tegangan semakin besar.
- Tegangan melampaui kekuatan batuan atau gaya gesek.
- Patahan bergeser secara tiba-tiba.
- Energi menyebar sebagai gelombang gempa.
Dalam proses ini, pergerakan lempeng dan kondisi patahan menjadi faktor dominan. Gaya pasang surut hanya mungkin memengaruhi waktu pelepasan energi pada patahan yang sudah mendekati kegagalan.
Bagaimana Gravitasi Bulan dan Matahari Memengaruhi Bumi?
Bulan menarik massa air laut sehingga membentuk tonjolan pasang di sisi Bumi yang menghadap Bulan dan di sisi berlawanan. Matahari juga memengaruhi pasang surut, tetapi pengaruh Bulan lebih besar karena gaya pasang surut sangat dipengaruhi oleh jarak.
Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan hampir segaris, gaya pasang surut keduanya saling memperkuat. Kondisi ini terjadi saat Bulan baru dan Bulan purnama dan disebut pasang purnama. Ketika posisi Matahari dan Bulan membentuk sudut hampir siku-siku, gaya pasang surut sebagian saling mengurangi. Kondisi ini disebut pasang perbani (NOAA).
Batuan padat juga mengalami pengangkatan dan penurunan kecil akibat tarikan tersebut. Fenomena ini disebut pasang Bumi padat. Perubahannya dapat diukur dengan instrumen geodesi dan seismologi, tetapi jauh lebih kecil dibandingkan deformasi akibat pergerakan lempeng.
Pada patahan yang sudah mendekati batas gagal, perubahan tekanan kecil secara teori dapat memengaruhi waktu terjadinya pergeseran. Namun, tidak setiap Bulan baru atau Bulan purnama diikuti gempa besar. Kecocokan tanggal tidak cukup untuk membuktikan hubungan sebab-akibat.
Hubungan Pasang Surut dan Gempa
Gaya pasang surut dapat menjadi pemicu sekunder, yaitu faktor yang membantu memulai peristiwa ketika sistem sudah berada dalam kondisi kritis. Gaya ini mungkin mengubah:
- tekanan pada bidang patahan;
- gaya normal yang menekan kedua sisi patahan;
- gaya gesek;
- tekanan fluida di dalam rekahan batuan.
Pengaruh tersebut lebih mungkin terlihat pada gempa kecil, patahan dengan orientasi tertentu, wilayah vulkanik, zona dengan tekanan fluida tinggi, atau gempa di bawah laut dan dekat pantai. Namun, temuan pada satu wilayah tidak dapat diterapkan langsung pada seluruh dunia.
Sebuah penelitian terhadap gempa besar di Jepang menemukan kemungkinan peningkatan peluang gempa ketika tegangan pasang surut berada pada kondisi tertentu, terutama pada patahan yang telah mengalami tekanan tinggi (Nature Geoscience). Temuan itu tidak berarti semua gempa dipicu oleh Bulan atau Matahari.
Kesimpulan yang lebih tepat adalah bahwa gaya pasang surut berpotensi memengaruhi waktu gempa dalam kondisi tertentu, bukan menjadi penyebab utama gempa.
Apakah Aktivitas Matahari Bisa Memicu Gempa?
Pengaruh Matahari perlu dibedakan menjadi dua hal. Pertama, gravitasi Matahari yang berkontribusi pada pasang surut. Kedua, aktivitas Matahari, seperti semburan surya, lontaran massa korona, dan badai geomagnetik.
Badai Matahari terutama memengaruhi magnetosfer dan teknologi, termasuk:
- komunikasi radio;
- navigasi satelit;
- operasi satelit;
- jaringan listrik;
- penerbangan di lintang tinggi;
- kemunculan aurora.
Mekanisme tersebut berbeda dari gempa tektonik. Gempa terjadi karena pelepasan tegangan pada batuan, sedangkan badai geomagnetik berkaitan dengan interaksi plasma dan medan magnet. Badan Cuaca Antariksa Nasional Amerika Serikat menjelaskan dampak badai geomagnetik terhadap sistem teknologi, bukan penggunaannya untuk memprediksi gempa.
Sejumlah penelitian pernah mencari hubungan antara aktivitas Matahari dan gempa, tetapi korelasi tidak otomatis membuktikan hubungan sebab-akibat. Diperlukan data jangka panjang, katalog gempa yang konsisten, metode statistik transparan, pengendalian faktor kebetulan, serta pengulangan oleh peneliti independen.
Mengapa Klaim “Bulan Menyebabkan Gempa” Menyesatkan?
Klaim tersebut biasanya bermasalah karena mengubah faktor pemicu menjadi penyebab utama. Bulan mungkin memengaruhi waktu pelepasan energi pada patahan yang sudah kritis, tetapi tidak membangun tegangan tektonik yang tersimpan selama bertahun-tahun atau berabad-abad.
Kecocokan antara gempa dan Bulan purnama juga bukan bukti yang cukup. Analisis yang benar harus membandingkan banyak kejadian pada berbagai fase Bulan, kondisi pasang surut, magnitudo, kedalaman, lokasi, serta orientasi patahan.
Peneliti juga harus mempertimbangkan karakter geologi lokal, seperti jenis batuan, tekanan fluida, kekuatan gesekan, kedalaman patahan, dan riwayat pergeseran. Hubungan yang ditemukan pada satu patahan belum tentu berlaku pada zona subduksi atau wilayah lain.
Cara Menilai Informasi Gempa Secara Kritis
Periksa nama peneliti, institusi, jurnal, periode data, dan metode penelitian. Bedakan artikel ilmiah dari berita populer, unggahan media sosial, video tanpa rujukan, atau klaim anonim.
Bedakan pula korelasi dan kausalitas. Gempa yang terjadi saat Bulan purnama hanya menunjukkan kecocokan waktu. Bukti kausal memerlukan mekanisme fisik, data memadai, analisis statistik, dan pengujian berulang.
Fase Bulan dan aktivitas Matahari tidak dapat digunakan untuk menentukan waktu, lokasi, atau magnitudo gempa. Gunakan informasi dari lembaga resmi seperti BMKG.
Tindakan Saat Terjadi Gempa
Di dalam bangunan
Terapkan prinsip merunduk, berlindung, dan berpegangan. Berlindunglah di bawah meja atau struktur kuat, jauhi kaca dan benda yang mudah jatuh, serta jangan menggunakan lift.
Di luar ruangan
Jauhi bangunan, tiang listrik, papan reklame, kaca, dan pohon besar. Cari area terbuka dan lindungi kepala dari benda yang mungkin jatuh.
Setelah guncangan berhenti
Periksa kondisi diri dan orang sekitar. Matikan listrik atau gas jika aman, ikuti informasi resmi, dan jangan memasuki bangunan yang rusak sebelum dinyatakan aman.
Jika berada di pesisir dan merasakan gempa kuat atau lama, segera menuju tempat yang lebih tinggi. Jangan menunggu informasi tambahan apabila kondisi tersebut sesuai dengan potensi tsunami.
Kesimpulan
Gravitasi Bulan dan Matahari menimbulkan pasang surut serta deformasi kecil pada Bumi. Dalam kondisi tertentu, perubahan itu mungkin memengaruhi waktu pelepasan energi pada patahan yang sudah kritis.
Namun, penyebab utama gempa tetap dinamika lempeng tektonik dan pergeseran patahan. Bulan bukan penyebab utama sebagian besar gempa, sedangkan badai Matahari terutama berdampak pada teknologi dan sistem magnetik Bumi.
Pertanyaan Umum
Apakah Bulan dapat menyebabkan gempa?
Bulan mungkin menjadi pemicu tambahan pada patahan yang sudah sangat tegang, tetapi bukan penyebab utama sebagian besar gempa.
Apakah gempa lebih sering terjadi saat Bulan purnama?
Belum ada dasar yang cukup untuk menggunakan Bulan purnama sebagai indikator umum terjadinya gempa.
Apakah badai Matahari dapat menyebabkan gempa?
Bukti hubungan langsung yang konsisten belum cukup. Badai Matahari terutama berdampak pada satelit, komunikasi, navigasi, aurora, dan jaringan listrik.
Apa penyebab utama gempa?
Penyebab utamanya adalah pelepasan energi akibat pergerakan lempeng tektonik dan pergeseran patahan. Aktivitas vulkanik, runtuhan bawah tanah, dan aktivitas manusia juga dapat menimbulkan gempa tertentu.
Bagaimana memperoleh informasi gempa yang tepercaya?
Gunakan informasi dari BMKG dan lembaga kebencanaan resmi. Hindari klaim yang hanya berdasarkan fase Bulan, aktivitas Matahari, atau kecocokan tanggal.