Beda Infeksi dan Alergi pada Anak
Infeksi dan alergi pada anak dapat menimbulkan gejala yang serupa, seperti hidung berair, batuk, bersin, mata berair, kulit merah, dan rasa tidak nyaman. Namun, keduanya memiliki penyebab, pola kemunculan, durasi, serta penanganan yang berbeda.
Infeksi terjadi ketika mikroorganisme, seperti virus, bakteri, atau jamur, masuk dan berkembang di dalam tubuh atau memicu peradangan. Sebagian infeksi dapat menular melalui percikan napas, tangan, permukaan yang terkontaminasi, makanan, minuman, gigitan, atau luka.
Alergi merupakan reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat yang umumnya tidak berbahaya, seperti debu, makanan tertentu, obat, atau bahan kimia. Alergi tidak menular, tetapi dapat berulang setiap kali anak terpapar pemicunya.
Membedakan infeksi dan alergi penting agar anak memperoleh penanganan yang tepat. Antibiotik tidak mengatasi alergi atau sebagian besar infeksi virus. Sebaliknya, obat alergi tidak dapat mengobati infeksi bakteri.
Apa Itu Infeksi pada Anak?
Infeksi terjadi ketika mikroorganisme masuk ke tubuh, berkembang, atau memicu reaksi peradangan. Penyebabnya meliputi:
- Virus, yang sering menyebabkan pilek, batuk, flu, dan sebagian besar infeksi saluran pernapasan.
- Bakteri, yang dapat menyebabkan sebagian infeksi tenggorokan, telinga, kulit, dan saluran kemih.
- Jamur, yang dapat menyerang kulit atau bagian tubuh tertentu.
Infeksi yang umum pada anak antara lain infeksi saluran pernapasan, radang tenggorokan, infeksi telinga, infeksi kulit, diare akibat infeksi saluran cerna, dan infeksi saluran kemih.
Penyebab penyakit tidak selalu dapat ditentukan hanya dari gejalanya. Batuk, pilek, diare, atau ruam dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Dokter dapat menilai keluhan berdasarkan pemeriksaan fisik, riwayat gejala, dan pemeriksaan tambahan jika diperlukan.
Apa Itu Alergi pada Anak?
Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap zat tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya bagi sebagian besar orang. Zat tersebut disebut alergen.
Pemicu alergi dapat berupa:
- Debu dan tungau.
- Serbuk sari tanaman.
- Bulu atau serpihan kulit hewan.
- Makanan, seperti susu, telur, kacang, atau makanan laut.
- Obat-obatan.
- Gigitan serangga.
- Sabun, deterjen, kosmetik, atau bahan yang bersentuhan dengan kulit.
Bentuk alergi pada anak meliputi alergi kulit, rinitis alergi, alergi makanan, alergi obat, dan reaksi alergi berat. Gejalanya dapat muncul segera setelah paparan atau beberapa waktu kemudian.
Perbedaan Infeksi dan Alergi
| Aspek | Infeksi | Alergi |
|---|---|---|
| Penyebab | Virus, bakteri, jamur, atau mikroorganisme lain | Respons sistem kekebalan terhadap alergen |
| Menular | Sebagian dapat menular | Tidak menular |
| Demam | Dapat terjadi | Biasanya tidak terjadi |
| Gatal | Dapat muncul, terutama pada kulit | Sering menjadi keluhan utama |
| Pola gejala | Berkembang mengikuti perjalanan penyakit | Berulang setelah terpapar pemicu |
| Penanganan | Disesuaikan dengan penyebab | Menghindari pemicu dan mengendalikan reaksi alergi |
Berdasarkan pola gejala
Infeksi biasanya berkembang selama beberapa hari, kemudian berangsur membaik. Anak dapat menjadi lebih lemas, kehilangan nafsu makan, atau mengalami nyeri pada bagian tubuh tertentu.
Alergi sering muncul segera atau berulang setelah paparan alergen. Keluhan dapat membaik ketika anak menjauh dari pemicu, tetapi alergi yang menetap dapat mengganggu tidur, aktivitas, dan konsentrasi.
Berdasarkan demam
Demam lebih sering berkaitan dengan infeksi, walaupun tidak semua infeksi menyebabkan demam. Alergi umumnya tidak menimbulkan demam. Demam tinggi, demam menetap, atau demam yang disertai anak tampak sangat lemas perlu diperiksa oleh dokter.
Berdasarkan lendir dan batuk
Alergi lebih sering menyebabkan cairan hidung bening, bersin berulang, hidung gatal, mata gatal dan berair, serta batuk akibat lendir yang mengalir ke tenggorokan.
Infeksi dapat menyebabkan perubahan konsistensi lendir selama perjalanan penyakit. Batuk dapat disertai nyeri tenggorokan, demam, rasa tidak enak badan, atau penurunan aktivitas.
Warna lendir tidak cukup untuk memastikan infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik harus berdasarkan pemeriksaan dan pertimbangan dokter.
Berdasarkan keluhan kulit
Alergi kulit sering menyebabkan gatal, kemerahan, biduran, kulit kering atau bersisik, ruam setelah makan atau bersentuhan dengan bahan tertentu, serta eksim yang kambuh.
Infeksi kulit lebih sering ditandai oleh nyeri, rasa panas, bengkak, kemerahan yang meluas, luka yang mengeluarkan cairan, kerak, nanah, atau kulit terasa hangat saat disentuh.
Kulit merah dan gatal tidak selalu menunjukkan alergi. Keluhan tersebut juga dapat disebabkan oleh eksim, iritasi, gigitan serangga, atau infeksi kulit.
Gejala yang Perlu Diperhatikan
Gejala infeksi
Gejala infeksi pada anak dapat meliputi:
- Demam.
- Lemas atau lebih banyak tidur.
- Nafsu makan dan minum menurun.
- Batuk, pilek, atau nyeri tenggorokan.
- Muntah atau diare.
- Nyeri pada bagian tubuh tertentu.
- Pembengkakan kelenjar getah bening.
- Perubahan perilaku, seperti lebih rewel atau kurang aktif.
Berdasarkan lokasinya, infeksi dapat menyebabkan napas cepat atau sesak, nyeri telinga, luka bernanah, diare, muntah, tanda dehidrasi, nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, mengompol setelah sebelumnya tidak mengompol, atau demam tanpa penyebab jelas.
Gejala alergi
Alergi kulit dapat menyebabkan biduran, gatal, ruam, kulit kering, dan eksim yang kambuh. Biduran biasanya berupa bentol menonjol yang dapat berpindah dari satu area ke area lain.
Rinitis alergi dapat menyebabkan bersin berulang, hidung berair dengan cairan bening, hidung tersumbat, hidung atau tenggorokan gatal, serta mata merah, gatal, dan berair. Keluhan yang selalu muncul di tempat atau musim tertentu dapat membantu menemukan pemicunya.
Alergi makanan dapat menyebabkan gatal atau kesemutan di mulut, biduran, muntah, nyeri perut, diare, bengkak pada bibir dan wajah, batuk, atau suara serak.
Apakah Alergi Bisa Menjadi Infeksi?
Alergi tidak berubah menjadi infeksi secara langsung. Namun, alergi dapat meningkatkan risiko infeksi sekunder, terutama pada kulit. Rasa gatal mendorong anak menggaruk hingga lapisan pelindung kulit rusak. Bakteri kemudian dapat masuk melalui luka tersebut.
Tanda kemungkinan infeksi sekunder meliputi:
- Kemerahan semakin luas.
- Kulit terasa panas dan nyeri.
- Keluar cairan atau nanah.
- Muncul kerak kekuningan.
- Bengkak bertambah.
- Demam.
- Anak tampak lemas.
- Garis kemerahan menyebar dari luka.
Cara Dokter Membedakan Infeksi dan Alergi
Dokter akan menilai:
- Pola gejala, termasuk waktu mulai, durasi, kekambuhan, paparan terhadap orang sakit, makanan, obat, atau produk tertentu.
- Riwayat kesehatan, termasuk alergi dalam keluarga, penyakit sebelumnya, dan obat yang sedang dikonsumsi.
- Pemeriksaan fisik, meliputi kulit, hidung, mata, tenggorokan, telinga, paru-paru, suhu tubuh, hidrasi, aktivitas, dan pola napas.
- Pemeriksaan tambahan, seperti tes alergi, pemeriksaan darah, usap tenggorokan, pemeriksaan mikrobiologi, atau pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.
Tidak semua anak memerlukan pemeriksaan laboratorium.
Penanganan Infeksi pada Anak
Perawatan di rumah dapat meliputi:
- Memastikan anak cukup minum.
- Memberikan makanan sesuai kemampuan anak.
- Membiarkan anak beristirahat.
- Memantau suhu dan perubahan perilaku.
- Menjaga kebersihan tangan.
- Tidak berbagi alat makan atau minum jika infeksi berpotensi menular.
- Memberikan obat penurun demam sesuai dosis dan petunjuk tenaga kesehatan.
Antibiotik hanya digunakan untuk infeksi bakteri tertentu dan harus berdasarkan resep dokter. Jangan memberikan obat dewasa, menggandakan dosis, atau menggunakan sisa antibiotik. Antibiotik juga tidak boleh dihentikan atau diubah dosisnya tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Vaksin membantu mencegah infeksi tertentu, tetapi tidak mengobati infeksi yang sudah terjadi dan tidak digunakan untuk mengatasi alergi. Vaksin hepatitis B melindungi dari virus hepatitis B; pemberiannya harus mengikuti jadwal imunisasi dan rekomendasi tenaga kesehatan.
Penanganan Alergi pada Anak
Catat makanan, lingkungan, produk, atau aktivitas yang mendahului gejala. Langkah yang dapat dilakukan meliputi:
- Mengurangi debu dan tungau di kamar.
- Menghindari asap rokok dan bahan iritan.
- Membaca label makanan dan obat.
- Menghindari pemicu yang telah terbukti.
- Tidak menghilangkan banyak jenis makanan tanpa pengawasan dokter atau ahli gizi.
Untuk merawat kulit, gunakan pembersih yang lembut, oleskan pelembap sesuai anjuran, jaga kuku anak tetap pendek, hindari air mandi yang terlalu panas, dan pilih pakaian yang nyaman. Jangan menggunakan obat steroid atau obat lain tanpa arahan dokter.
Dokter dapat merekomendasikan antihistamin atau obat lain berdasarkan usia, berat badan, jenis gejala, dan kondisi anak. Jangan memberikan obat alergi milik orang lain.
Jika alergi berkaitan dengan makanan, obat, atau gigitan serangga, dokter dapat membuat rencana tindakan darurat untuk keluarga dan pengasuh.
Kapan Anak Perlu Segera Dibawa ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis jika anak mengalami demam tinggi atau menetap, sangat lemas, sulit dibangunkan, tidak responsif, napas cepat, sesak, bibir kebiruan, tidak mau minum, buang air kecil jauh berkurang, muntah atau diare berulang, kejang, atau kemerahan dan bengkak pada kulit yang menyebar cepat.
Reaksi alergi berat ditandai oleh bengkak pada bibir, lidah, wajah, atau tenggorokan; sulit bernapas; suara serak; pusing; lemas atau hampir pingsan; biduran menyeluruh; atau muntah berulang yang disertai keluhan kulit maupun gangguan pernapasan. Kondisi ini merupakan keadaan darurat dan membutuhkan pertolongan medis segera.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Orang Tua
- Menganggap semua demam sebagai alergi.
- Memberikan antibiotik tanpa resep.
- Menganggap semua ruam sebagai alergi.
- Menghentikan terlalu banyak jenis makanan tanpa pengawasan.
Pembatasan makanan tanpa pengawasan dapat mengganggu kecukupan nutrisi anak. Dugaan alergi makanan sebaiknya dievaluasi bersama dokter atau ahli gizi.
Kesimpulan
Infeksi dan alergi dapat menimbulkan gejala yang serupa, tetapi penyebab dan penanganannya berbeda. Demam, lemas, nyeri, serta gejala yang berkembang bertahap lebih sering berkaitan dengan infeksi. Gatal, bersin berulang, cairan hidung bening, dan keluhan setelah paparan tertentu lebih sering mengarah pada alergi.
Alergi tidak berubah menjadi infeksi secara langsung, tetapi garukan dan luka pada kulit dapat memicu infeksi sekunder. Catat pola gejala, hindari pemberian obat tanpa petunjuk, dan konsultasikan keluhan yang menetap atau memburuk kepada dokter.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah alergi pada anak bisa menyebabkan demam?
Alergi biasanya tidak menyebabkan demam. Jika demam, lemas, atau nyeri muncul bersamaan dengan gejala alergi, dokter perlu memeriksa kemungkinan infeksi atau penyebab lain.
Bagaimana membedakan pilek karena alergi dan infeksi?
Pilek karena alergi sering disertai bersin berulang, hidung atau mata gatal, dan cairan hidung bening. Infeksi lebih sering disertai rasa tidak enak badan, nyeri tenggorokan, batuk, atau demam.
Apakah kulit merah dan gatal pasti merupakan alergi?
Tidak. Keluhan tersebut dapat disebabkan oleh alergi, eksim, iritasi, gigitan serangga, atau infeksi kulit. Nyeri, rasa panas, nanah, kerak, dan kemerahan yang meluas dapat menunjukkan infeksi sekunder.
Kapan alergi bisa berkembang menjadi infeksi?
Alergi dapat diikuti infeksi sekunder ketika anak menggaruk hingga kulit terluka. Periksakan anak jika luka menjadi nyeri, panas, bengkak, bernanah, kemerahan meluas, atau disertai demam.
Bolehkah memberikan antibiotik saat anak mengalami gejala alergi?
Tidak. Antibiotik hanya digunakan untuk infeksi bakteri tertentu berdasarkan resep dokter. Antibiotik tidak mengatasi alergi dan penggunaannya tanpa indikasi dapat menyebabkan efek samping serta resistansi.
Apakah vaksin hepatitis B dapat mencegah semua infeksi pada anak?
Tidak. Vaksin hepatitis B memberikan perlindungan terhadap virus hepatitis B, bukan semua jenis infeksi. Pemberiannya harus mengikuti jadwal imunisasi dan rekomendasi tenaga kesehatan.